Hot!

Apakah Bibirmu Masih Perawan bagian 6


Adegan Lima
Hidup (Nikah) Tanpa Pacaran? Ueeenak Tenaaan

                Kalo yang berikut ini nih, suer bakalan seru dan dahsyat. Di adegan ini kamu akan nikmatin keindahan cinta yang colorful and wonderuful. Asli. Hidup (nikah) tanpa pacaran? Mana mu’iiiing? Mustahil tra la la! Pasti wong ndeso! Siti Nurbaya kali? Bla...bla...bla...
Kalau penasaran dan jujur pingin tahu jawabnya, jangan antipati dulu lah. Nikmati saja ceritanya, hayati, inshaALLAH kamu akan menemukan keindahan di dalamnya. Dan...ssttt... kamu pasti pingin segera nikah. Siapa takuut!
Sodare-sodare yang mulai nampak cakep-cakep (sebelumnya belum cakep, karena sukanya ngobral cinta doank. Karena sekarang udah pada pinter ngatur cintanya, jadi kelihatan cakep!), agama Islam adalah agama terakhir untuk peradaban manusia. Artinya gak ada lagi agama atau peraturan tentang hidup dan kehidupan model baru setelah Islam sampai hari kiamat kelak. Udah gitu Islam mengatur segala hal tentang kehidupan kamu mulai dari yang terkecil (tidur, pipis, gosok gigi, berteman, cara berbusana, cara makan, dll) sampai yang berat-berat (bisnis, bermasyarakat, bernegara, dll). Tidak ada satupun sesuatu di dunia ini yang tidak diatur Islam. Kamu nggak akan menemui di agama atau ideologi manapun peraturan selengkap dan sesempurna Islam. Nggak ada yang bisa njelasin secara tuntas..tas masalah apapun. Hebat kan? Ya jelas hebat, lha yang nurunin dan yang buat Yang Maha Tahu dan Maha Dahsyat, Allah SWT.
Bagi yang sudah mulai bisa baca Qur’an, coba kamu buka surat Al-Maidah ayat 3: “Alyauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa rodhiitu lakumul islaama diina”. (Pada hari ini telah Aku (Allah) sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu). Jelas kan? Jadi Islam itu telah sempurna, diridhoi Allah, dan sebagai ni’mat terbesar untuk manusia. Alhamdulillah.
Kalau kamu memang mengaku sebagai cowok Muslim sejati harusnya kamu jadi pejantan tangguh untuk mengamalkan Islam secara totalitas. Kala kagak, jelas kamu adalah cowok Muslim banci alias pengecut. Demikian juga kalau kamu ngaku cewek Muslimah sejati harusnya juga begitu, mengamalkan Islam ini dengan seutuhnya. Kalau nggak, pasti kamu adalah cewek Muslimah yang ecek-ecek. Kamu nggak ingin dicap Islam KTP kan? Pasti tidak mau. Karena kalau hanya Islam KTP, yang masuk surga nanti juga cuman KTPnya doank!
Nah, diantara totalitas dan kesempurnaan Islam dalam mengatur kehidupan manusia adalah aturan tentang hubungan laki-laki perempuan, termasuk dalam hal ini adalah tata cara memilih jodoh dan cara pernikahan. Sekali lagi kalau kamu ngaku sebagai cowok or cewek yang beragama Islam, harusnya ngikut tata cara Allah dalam memilih jodoh.
Yang harus kita pahami bersama bahwa menikah adalah perwujudan cinta kasih dua anak manusia dalam ikatan yang sah, legal dan nggak akan pernah kuatir di grebek warga gara-gara kamu berduaan dalam suatu rumah. Yang lebih penting lagi, nikah merupakan perintah agama alias sunnah Rasulullah SAW. Jadi, aktualisasi cinta yang benar adalah penyaluran cinta kasih, cinta mesra, cinta nafsu, cinta yang penuh komitmen, dan segala maksud cinta, kepada kekasih sah kita yaitu suami atau istri. Nah, cinta yang seperti inilah yang akan membawa pelakunya menemukan puncak kebenaran cinta. Alangkah indah dan nikmatnya cinta seperti ini. Tiada cinta yang lebih indah kecuali cinta setelah pernikahan, begitu kata kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Yang berikut ini akan saya sampaikan beberapa hadits Rasulullah SAW tentang nikah. Tak ada maksud untuk memprovokasimu agar cepet-cepet nikah, saya hanya ingin agar kamu cepet-cepet nyarikan menantu buat bokap nyokap loe. Weleh... sama saja lah! Maksud gue, saya ingin agar kamu paham bahwa Islam sama sekali nggak nglarang laki perempuan bercinta. Allah nggak marah kok kalau kamu berduaan, saling pegang, cium, petting, bahkan intercourse. Allah dan RasulNya hanya memberikan arahan agar saling raba, kissing, dan intercoursemu itu mendapatkan barakah dan pahala Allah. MasyaAllah, uuenaak buanget! Udah nafsu terpuaskan, dapat pahala lagi! Mau? Ya jelas mauu donk! Nich hadits-haditsnya:
“Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farji. Dan barang siapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR. Bukhari Muslim)
“Ada tiga golongan yang wajib Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari maksiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah. “ (HR. At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah)
“Segala sesuatu selain dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan kecuali terhadap empat hal. Yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seorang yang melatih kudanya, berlatih memanah, dan berenang.” (HR. An Nasa’i)
“Nikahkanlah orang-orang yang masih sendirian diantara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlaq mereka, meluaskan rizki mereka, dan menambah keluhuran mereka. (Al Hadits)
Dan masih buaanyaak lagi ayat-ayat Qur’an maupun Hadits yang menyuruhmu agar cepet-cepet menikah. Bahkan kata Nabi, menikah itu separo dari agama ini. Nah lho, artinya kalau kamu masih jomblo berarti agama kamu masih separo! Alaaa... mbokk...
“Sholat dua rakaat yang didirikan oleh orang yang sudah menikah lebih baik dari sholat malam dan berpuasa siang hari yang dilakukan oleh laki-laki bujang” (Al-Hadits)
Oke, kalau gitu gimana donk cara nikah tanpa pacaran? Iya nanti akan aku jelasin. Tapi maaf, mungkin hanya singkat dan nggak begitu detail. Kalau pingin yang lengkap, kamu cari sendiri buku-buku yang berkaitan dengan nikah ya!
Tapi tunggu dulu, ikuti senam nafas dulu biar kamu tambah fresh. Yuk ambil nafas dalam-dalam lewat hidung, kemudia tahan dulu selama 10 sampai 20 jam, eh sorry, 10 sampai 20 detik (jangan kentut lho!). Iya bagus. Lalu sekarang keluarkan perlahan-lahan lewat telinga.. eh lewat mulut. Ulangi tiga kali! Gimana udah pada lega? Lanjuuuut...
Nikah tanpa pacaran biasanya dimulai dengan: Pertama. Niat yang Ikhlas. Artinya kamu nikah memang ngikutin perintah Allah dan RasuNya. Juga pingin jaga nafsu agar nggak liar dan cenderung dosa. Jangan pernah niat nikah untuk yang lain-lain lho! Karena Allah tahu apa yang menjadi niatmu dan membalas sesuai dengan apa yang kamu niatkan.
“Barangsiapa mengawini seorang wanita karena memandang kedudukannya maka Allah akan menambah baginya kerendahan, dan barangsiapa mengawaini wanita karena memandang harta bendanya maka Allah akan menambah baginya kemelaratan, dan barangsiapa mengawininya karena memandang keturunannya maka Allah akan menambah baginya kehinaan, tetapi barangsiapa mengawini seorang wanita karena bermaksud ingin meredam gejolak mata dan menjaga kesucian seksualnya atau ingin mendekatkan ikatan kekeluargaan maka Allah akan memberkahinya bagi isterinya dan memberkahi isterinya baginya..” (HR. Bukhari)
Dua, Nadhor. Yakni proses melihat dan menilai calon jodoh kita. Ini bedanya dengan pacaran. Kalau pacaran kamu tidak hanya sekedar melihat pasangan tapi juga ‘merasakannya’. Dan biasanya karena sudah ada ‘cinta’, semua tentang kekasihnya selalu terlihat baik. Sudah kita bahas di depan kan?
Kalau nadhor, kita ingin tahu tentang calon kita seobyektif dan sejujut mungkin. Informasinya kita usahakan datang dari orang-orang yang mengenalnya.
Watak, kebersihan, kecerdasan, keturunan, kebiasaan-kebiasaanya, pekerjaan, atau semua tentangnya, akan bisa kita dapatkan infonya dengan jujur dan obyektif.
Misal kamu mo nikah dengan seseorang. Sebelum kamu putusin menerima or nolaknya, kamu pasti akan cari info tentang dia sebanyak-banyaknya. Kamu pasti nggak ingin milih kucing dalam karung?
“Dia itu sebenarnya gimana sih? Agama dan akhlaqnya bagus nggak? Dia itu pemarah nggak? Dia itu pinter masak nggak? Kerjanya dimana? Dia itu... bla...bla...”
Ke Tiga, Ta’aruf. Setelah nadhor dan merasa cocok dengan data yang ada, lewat ‘penyelidikan’, dua orang calon pengantin itu dita’arufkan. Ini proses saling mengenal dengan didampingi perantara atau ustadz yang ngasuh ta’limnya. Jadi nggak berduaan Sodara. Emang napa?? Ya... biar nggak jatuh ke pacaran lagi. Kan mulai dari atas prosesnya udah bener, masak mau diselipi yang nggak bener. Nggak barokah lho!
Masing-masing saling bertanya tentang visi masing-masing. Karena membangun rumah tangga sama persis dengan membangun perusahaan. Harus ada kejelasan visi, cepat atau lambat pasti akan oleng, tinggal nunggu karamnya.
Misal kamu punya visi rumah tangga da’wah. Karena visi kamu seperti itu, pasti kamu akan cari pasangan yang nantinya siap all out berdakwah jika berumah tangga. Nah, lewat ta’aruf inilah masing-masing bisa jelas apa dan bagaimana tentang niat, tujuan, visi dan misi berumah tangga. Yang jelas dalam ta’aruf ini masing-masing nggak akan berani bohong seperti dalam pacaran. Kalau masih pacaran biasanya pilih bohongnya dari pada putus. Tapi kalau ta’aruf, dia nggak akan berani bohong. Karena, satu, sejak awal dia niat nikah karena Allah SWT. Dua, kalau dia bohong sama saja membohongi dirinya sendiri.
Maksudnya gini. Pas ta’aruf ketika di tanya berapa gajinya per bulan, karena sejak awal kita sudah tertarik sama dia dan biar cinta kita diterima, kita bilang 4 juta per bulan. Dan calon kita terkesima ketika tahu gaji kita besar. Akhirnya dia menerima gara-gara gaji kita besar. Tapi begitu nikah dan gaji kita ternyata cuma 1 juta, muncullah perang. Kita akan dituduh pembohong. Gimana, bisa ngerti kagak? Jadi dalam ta’aruf, kemungkinan bohongnya akan kecil.
Ke empat, sholat istikharah. Inilah perbedaan mencolok antara sistem pacaran dengan yang bukan pacaran. Dengan sholat istikharah kita melibatkan Allah dalam mengambil keputusan. Baik atau tidak kalau kita teruskan proses ini, semuanya lewat sholat istikharah. Karena kita faham, yang mengetahui jodoh terbaik kita adalah Allah SWT. Makanya kita minta petunjuk pada Allah. Tapi yang murni atas nama cinta (nafsu), pokoknya cinta, jadilah ia nikah. E... baru nikah tiga tahun dah pada minta cerai. Mana keindahan cinta waktu pacaran dulu?
Ke lima, khitbah. Bahasa Indonesianya lamaran. Setelah semua proses dilewati dan kamu ngerasa sudah cocok, sementara setelah istikharah kamu semakin mantap, biasanya yang cowok resmi meng-khitbah ke keluarga sang cewek. Dan biasanya pula, banyak yang diterima.
Ke enam, Ijab.
“Alhamdulillah gua dapat bini juga akhirnya.”
“Subhanallah, laki gue cakep juga ya, sholeh lagi! Ane nyesel nikah, kenapa nggak dulu-dulu aja nikahnya kalau tahu nikmatnya nikah seperti ini?” Dan seterusnya.
Ke tujuh, malam pertama. Nah, kalau kamu pinter menyimpan energi cintamu dan kamu ambil deposito cintamu setelah nikah, wah...wah..ruarrrr biasa... asyik berat, emmm... nggak kebayang nikmatnya. Rasain, pada pingiiin ya?
“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat, maka berguguranlah dosa-dsoa dari sela-sela jarinya.” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar Rafi’ dari Abu Sa’id Al Khudzi Ra)
Oke, sudah mantap? Selaki lagi, hanya info secuil saja. Kamu bisa baca-baca buku tentang proses meminang dalam Islam yang sudah banyak beredar di toko buku atau paling nggak pinjem ke temenmu. Tapi setidaknya saya sudah memberikan solusi kalau kamu sedang dimabuk asmara, apa sesungguhnya yang harus kamu lakukan. Kalau emang sudah nggak kuat, ya segera nikah saja. Kalau emang belum mampu nikah, kata Nabi, puasalah dan perbanyaklah aktivitas positif agar kamu nggak melulu mikirin sex.

0 komentar:

Posting Komentar