Oleh : Ustadz Ahmad Alfian
Di antara bentuk rahmat dan kasih sayang Allah Swt kepada para hambaNya adalah Dia mengutus para rasul untuk membimbing manusia kepada jalan yang lurus dan menurunkan kitab-kitabNya yang di dalamnya berisi cahaya dan hidayah. Allah berfirman:
"Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi berita gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan" QS. Al Baqarah 213Di antara ciri orang beriman sekaligus syarat kesempurnaan imannya adalah beriman kepada kitab-kitab Allah Swt. Allah Swt berfirman:
"Katakanlah (wahai orang-orang mukmin); Kami beriman kepada Allah dan kitab yang diturunkan kepada kami, dan kitab yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan kitab yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kitab yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya" QS. Al Baqarah 136Ayat di atas menunjukkan kewajiban beriman kepada para nabi dan rasul, dan beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka.
Beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu rukun iman. Yakni meyakini dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang Dia turunkan kepada para rasul yang dikehendakiNya, Dia turunkan dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang terang. Kitab-kitab tersebut adalah Kalamullah (Firman/perkataan Allah) bukan makhluk. Maka wajib beriman secara global kepada semua kitab-kitab Allah Swt dan wajib beriman secara rinci kepada kitab-kitab yang disebutkan namanya secara rinci.
Beriman kepada Kitab-kitab Allah Swt mencakup beberapa hal berikut:
1. Mengimani bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar turun dari sisi Allah Swt.
2. Beriman terhadap kitab yang kita ketahui nama-namanya, kita mengimaninya sesuai dengan namanya, seperti beriman bahwa Allah Swt telah menurunkan kitab Al Qur'an.
Allah Swt berfirman.
"Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)" QS. Al Baqarah 185Allah Swt menurunkan Taurat kepada Nabi Musa as, Allah Swt berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (terdapat) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)" QS. Al Maidah 44Allah Swt juga menurunkan Injil kepada Nabi 'Isa as, Allah Swt berfirman:
"Dan Kami iringkan jejak mereka (para nabi Bani Israil) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (terdapat) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)" QS. Al Maidah 46Demikian juga Zabur, Allah Swt turunkan kepada Nabi Dawud as:
"Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud" QS. Al Israa' 55Allah Swt juga menceritakan tentang Shuful Ibrahim dan Shuful Musa dalam firmanNya:
"Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Shuful Ibrahim dan Musa" QS. Al A'la 18-193. Membenarkan berita-berita yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut. Seperti berita-berita dala Al Qur'an, dan berita-berita dalam kitab-kitab sebelumnya yang belum mengalami perubahan atau penyimpangan.
4. Mengamalkan hukum-hukum dalam kitab-kitab tersebut selama tidak dihapus (mansukh), dengan penuh ridha dan penerimaan, baik kita memahami hikmah di balik hukum-hukum tersebut ataukah tidak. Adapun kitab-kitab terdahulu maka semuanya telah dihapus dengan kitab Al Qur'anul Karim.
Allah Swt berfirman:
"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaimin terhadap Kitab-kitab yang lain itu" QS. Al Maidah 48Muhaimin yakni sebagai hakim terhadap kitab-kitab terdahulu. Atas dasar itu tidak boleh mengamalkan hukum apapun yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu kecuali jika dibenarkan dalam Al Qur'an
Al Qur'anul Karim Kitab Paling Mulia
Al Qur'anul Karim adalah kitab termulia, diturunkan kepada Nabi paling utama, dengan membawa syari'at paling mulia. Al Qur'an merupakan kitab terakhir, membenarkan kitab-kitab terdahulu sekaligus menyempurnakan syari'at-syari'at sebelumnya. Kitab inilah yang umat Muhammad Saw seluruhnya diwajibkan untuk mengikuti syari'at-syari'atnya dengan berhukum dengannya, bersama dengan As Sunnah yang juga merupakan wahyu yang Allah Swt turunkan kepada Nabi-Nya disamping Al Qur'an/"Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Al Kitab dan Al Hikmah kepadamu" QS. An Nisa 113Allah Swt menurunkan Al Qur'an kepada Nabi Muhammad Saw agar dijadikan pedoman hukum, sekaligus sebagai obat penyakit yang ada di dada, penjelasan segala sesuatu, hidayah, dan rahmat bagi kaum mukminin. Allah Swt menurunkan Al Qur'an agar manusia membacanya dengan penuh tadabbur (memperhatikan), mengikutinya, dan mengamalkan kandungannya. Sebagaimana firmanNya:
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran" QS. Shad 29
"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang penuh berkah, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kalian diberi rahmat" QS. Al An'am 155Maka barangsiapa membaca Kitabullah dengan penuh tadabbur, mengikutinya, dan mengamalkan kandungannya berarti benar-benar telah beriman dengan kitab tersebut. Sebagaimana pujian Allah Swt dalam firmanNya:
"Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan penuh tadabbur (sehingga mengikutinya dengan sebenarnya), mereka itu orang-orang yang beriman kepadanya, dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi" QS. Al Baqarah 121Mereka adalah orang-orang yang menghalalkan apa yang dinyatakan halal dalam Kitabullah, mengharamkan apa yang dinyatakan haram dan Kitabullah, mengamalkan ayat-ayat yang muhkam (yang jelas), mengimani ayat-ayat yang mutasyabih (yang jelas), mereka adalah orang-orang yang berbahagia, yang mengerti nikmat Allah Swt yang sangat besar ini dan bisa mensyukurinya.
Kitab Taurat dan Injil yang ada di tangan orang-orang Nasrani tidak diragukan lagi adalah kitab-kitab yang tidak sah penisbatannya keapda Nabi Musa dan kepada Nabi 'Isa as. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa kitab Taurat yang ada di tangan Yahudi adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, tidak pula bisa dikatakan bahwa kitab Injil yang ada di tangan Nasrani adalah Injil yang diturunkan kepada Nabi 'Isa as. Sehingga kedua kitab tersebut yang ada di tangan Yahudi dan Nasrani bukanlah Taurat dan Injil yang kita diperintah untuk mengimaninya secara rinci.
Hal itu disebabkan telah terjadi penyelewengan, pemalsuan dan perubahan yang dilakukan oleh tangan-tangan lancang orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kitabnya masing-masing. Hal ini sebagaimana Allah Swt terangkan dalam Al Qur'an, di antaranya pada surah Al Baqarah 75, Al Maidah 13-15, dan lainnya. Di samping penegasan Al Qur'an, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Taurat dan Injil yang ada tidak sah dinisbahkan sebagai kitab-kitab Allah Swt antara lain:
- Taurat dan Injil yang sekarang ada di tangan Yahudi dan Nasrani bukan naskah aslinya, namun terjemahannya.
- Dalam naskah Taurat dan Injil yang ada tersebut telah tercampur antara firman Allah Swt dan perkataan manusia.
- Baik Taurat maupun Injil yang ada tersebut dibukukan setelah wafatnya Nabi Musa dan Nabi 'Isa as dengan terpaut waktu yang sangat lama. Sementara tidak ada rantai periwayatan terpercaya antara zaman penulisan hingga Nabi Musa maupun Nabi 'Isa. Semakin menguatkan hal ini, Injil muncul dalam beberapa naskah, ada Injil Matius, Injil Yohanes, dll.
- Terdapat pertentangan antara naskah-naskah Taurat dan Injil yang ada.
- Dalam taurat dan Injil yang ada di tangan Yahudi dan Nasrani tersebut ternyata berisi aqidah-aqidah yang bathil dan sesat, berita-berita dusta, dan hikayat-hikayat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Maka kewajiban kaum mukminin meyakini, bahwa Taurat dan Injil yang ada di tangan Yahudi dan Nasrani tersebut bukanlah kitab yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya, namun itu adalah hasil penyimpangan Yahudi dan Kristen terhadap kitabnya. Maka kita tidak membenarkannya sama sekali kecuali apa yang telah dibenarkan oleh Al Qur'anul Karim atau oleh As Sunnah yang mulia. Dan kita dustakan apa yang telah didustakan oleh Al Qur'anul Karim atau As Sunnah yang mulia. Adapun yang tidak ada keterangan Al Qur'an maupun As Sunnah tentangnya maka kita tidak membenarkan tidak pula mendustakannya.
| sumber : buletin Al Ilmu edisi 05 Akidah
