Hot!

Other News

More news for your entertainment

APA SIH PENTINGNYA INSYA ALLAH?



Jauh hari sebelum ujian datang, baik itu UAS (Ujian Apa Siksaan), UTS (Ujian Tinggal Sebentar) atau UN (Ujian Nelangsa) kamu sering atau pernah melihat ada temanmu yang sikapnya sangat optimis banget -udah ada kata ‘sangat’ ketambahan ‘banget’ lagi, he :)-. Bahkan, kata temen-temen yang lain dibilangnya optimis tingkat dewa alias optimis beud.

Sebenarnya over optimis kayak gitu baik nggak sih?

Guys, sebenarnya optimis itu baik banget dan seharusnya tetap kita punya, apalagi kalo kamu muslim. Tapi yang harus kita perhatikan dan ingat baik-baik adalah sifat optimis itu harus selalu diimbangin dengan rasa tidak merasa aman dari makar Allah Swt. Maksudnya gimana kak? Maksudnya, selalu merasa bahwa Allah Swt juga punya peran dalam setiap apa yang kamu kerjakan atau rencanakan. Bisa jadi Allah Swt sejalan atau punya keputusan lain yang lebih baik buat kamu. -ngerti kan ya, kalo masih gak DONG mensyen saya segera > @onoskalijup :D-

Tadi saya bilang “apalagi kalo kamu muslim” artinya musti lebih lagi. Sebagai muslim, kamu wajib tumbuh bersama rasa optimis selagi muda. Karena kamu adalah pemuda yang dikenal sebagai agent of change alias agen perubahan di masyarakat nantinya. Kalo gak punya rasa optimis ya bukan pemuda namanya, trus apa? Ya terserah mau dinamai apa. Yang berjiwa muda (sebutan buat yang nggak muda lagi) juga gak boleh pesimis, harus tetap optimis agar selalu positif dalam memandang masa depan.

Salah satu ciri seorang mukmin (muslim beriman) yang bersegera dalam kebaikan dan berlomba-lomba meraih kebaikan itu hati mereka senantiasa takut dan ngeri kalo kebaikan yang mereka kerjakan tidak diterima Allah Swt.

Bisa kamu simak terjemahan surat Al Mukminuun ayat 57-61 ini,

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (dengan sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” QS. Al Mukminuun: 57-61

Oke, intinya optimis itu baik tapi musti proporsional dan nggak lebay alias over karena ada Allah Swt yang selalu mengawasi dan Maha Berkehendak.

Tiba-tiba temenmu yang over tadi bilang, “Ah kan nggak tiap hari begitu, bro/sis atau cyin!” *hehe yang terakhir agak jijay*. Iya sih, cuman bukanya lebih baik kalo tiap ucapan yang kita keluarkan punya nilai berkah di hadapan Allah Swt, selain itu pasti juga dapat pahala. Caranya gimana? Gampang! cuma nambahkan kata Insya Allah di kalimatmu, artinya dah pada tau kan, Yoi benul beud “Jika Allah mengijinkan”

Biasa karena faktor percaya diri yang berlebihan akhirnya dia sangat yakin seakan-akan segalanya dapat dia selesaikan tanpa campur tangan Allah Swt, bisa masuk kategori lupa daratan nih. Aslinya nih, kalo kita pahami lebih dalam ucapan Insya Allah itu sangat penting sekali bagi mukmin seperti kita. Sejauh apa pentingnya sih? Ucapan Insya Allah itu bisa dikatakan dharuri, apaan tuh? Artinya kita bisa merugi kalo tidak mengucapkannya. Serugi apa sih? Yuk lanjut.

Biar kamu tambah yakin pentingnya ucapan Insya Allah, simak dulu kisah nyata penuh hikmah berikut.
Kisah ini adalah kejadian yang dialami oleh Rasulullah Muhammad Saw dimasa puncak perseteruan beliau dengan para kafir Quraiys. Orang-orang quraiys mengirimkan dua orang cendekiawannya sebagai utusan kepada Yahudi di Madinah. Tujuannya adalah agar orang-orang quraiys mendapatkan ilmu baru dan dukungan dalam menghadapi Nabi Muhammad Saw. Dua orang utusan itu namanya An Nadhar bin Al Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith.

Mereka menemui Rasullulah dengan membawa tiga macam pertanyaan dari si Yahudi Madinah seperti ini; 1. Bagaimana kisah Ashabul Kahfi?, 2. Bagaimana kisah Dzul Qarnain?, 3. Apa yang dimaksud dengan Ruh?. Ketika Rasulullah Saw mendapatkan tiga pertanyaan itu beliau menjawab, “Besok akan saya ceritakan dan saya jawab”.

Hingga beberapa hari kemudian wahyu dari Allah Swt tidak turun. Hal ini membuat Rasullah Saw khawatir dan bersedih karena terbebani dengan dua utusan tadi yang selalu menagih janji. Setelah lima belas hari berlalu, Allah Swt menurunkan surat Al Kahfi yang berisi jawaban atas dua pertanyaan yang diajukan kepada beliau. Sedangkan jawaban pertanyaan ketiga disebutkan di surat Al Israa ayat 85. Silahkan kamu cek di Al Quranmu ya.

Di penghujung akhir kisah Ashabul Kahfi, Allah Swt berfirman seperti ini,

“Janganlah kamu sekali-kali mengatakan, ‘Sesungguhnya saya akan melakukan hal ini besok,’ kecuali dengan mengatakan Insya Allah” QS. Al Kahfi 23-24

Ternyata penyebab wahyu tidak segera turun adalah karena, Rasulullah lupa tidak mengucapkan Insya Allah ketika menjanjikan jawaban kepada kedua utusan Quraiys tadi. Subhanallah ya. Mungkin saya dan kamu akan bertanya, “Bukanya Rasulullah Saw sudah diampuni kesalahannya baik yang lalu maupun yang akan datang? Terus, kenapa kesalahan kecil dan sepele bisa dihukum kayak gitu. Bukanya kebaikan beliau bisa menutup kesalahan kecil atau sepele begitu?.

Nah, seperti ini jawabnya. Pertama, agar urusan sepele seperti itu tetap menjadi pelajaran dan hikmah bagi kita semua sebagai umatnya. Kalo Rasulullah Saw aja ditegur seperti itu gimana lagi sama kita-kita ya. Kedua, ada sebuah kaidah yang mengatakan begini. Ada hal-hal tertentu bagi orang-orang baik disebut kebaikan, namun buat orang-orang yang dekat dengan Allah dan menjadi kekasih-Nya akan dinilai sebagai keburukan. Contohnya tadi, kita menganggap kelalaian tersebut sebagai sesuatu yang sepele jika dibandingkan dengan kebaikan Rasulullah, namun bagi Allah Swt hal tersebut tetaplah kejelekan yang harus diluruskan.

Ayo kita sempurnakan sikap optimis kita dengan tetap menghadirkan Allah Swt didalamnya dengan ucapan Insya Allah. Karena sebagaimanapun kerennya cara belajar kita dan rapinya catatan pelajaran kita tetapi jika Allah Swt tidak meridhoi, ya buat apa.

*Retouch tulisan Ustadz Musyaffa Abdurrahim berjudul Urgensi Insya Allah