Hot!

APA YANG HENDAK KAU TANAM, RUMPUT atau PADI

Oleh : Abu Sulaiman Ad Darani


Sore yang teduh, gerimis dan bau tanah basah. Senja yang sempurna. Tepat pukul 16.45 sore aku berjalan melewati jalan setapak yang biasa ku lalui sepulang kuliah. Tak lama lagi aku akan sampai di jalan besar menuju rumahku. Sore kali ini memang berbeda, sebab gerimis datang bersama teduh matahari yang beranjak pergi meninggalkan bumi.

Di kejauhan, tampak seorang kakek tua yang bersandar di tepi trotoar yang hendak kulewati. Cukup lama aku mengamatinya dari kejauhan. Jelas sekali ia kelaparan, keriput diwajahnya menceritakan lara yang berkepanjangan dan tak kunjung usai. "Ah... dimana keluarganya, anaknya?" Tanyaku dalam hati. Aku mulai merogoh sakuku sekiranya ada uang receh yang bisa kuberikan padanya. Memang tak banyak karena uang receh yang tersisa di kantongku biasanya adalah sisa membayar angkutan umum, aku hanya menemukan empat uang logam lima ratus rupiah lalu ku angsurkan pada kaleng kecil si pengemis tua itu.

"Ah, ini pasti sudah cukup, dia pasti senang mendapat uang tambahan" pikirku. Toh dia juga sama dengan pengemis tua lainnya di pinggir jalan dan uang dua ribu rupiah selalu cukup untuk sekedar diberikan pada seorang pengemis. Ketika tepat beberapa langkah kakiku beranjak, terdengar suara roda dan saat ku toleh, seorang bapak paruh baya lumpuh penjual perkakas rumah tangga yang duduk di kursi roda usang itu menghampiri pengemis tua seraya mengangsurkan uang dua puluh ribuan, "Bapak belum makan kan? Ini uang untuk bapak makan dan sisanya untuk sarapan bapak esok pagi" Ucap bapak itu, kemudian ia kembali berjualan barang kelontong yang diikatkan pada pegangan tangannya dengan tali rafia, "Sapu... kain pel dik, siapa mau beli..." teriaknya.

Kakiku seakan terpaku, kaku menyaksikan peristiwa itu. Hatiku tertampar, aku malu!. Bagaimana bisa seorang bapak lumpuh yang serba kekurangan, yang sesungguhnya ialah yang lebih membutuhkan bantuan dengan tulusnya mengangsurkan uang yang nominalnya berlipat-lipat dariku, sedangkan aku? dengan tubuh sehat dan kakiku yang dengan kokohnya menginjak bumi masih dengan ragu dan diliputi kegamangan saat memberikan uang yang tak seberapa harganya, sungguh malu rasanya.

Padahal bisa jadi iapun belum makan seharian, sama dengan pengemis tua itu dan bisa jadi pula dua puluh ribu yang diberikannya adalah satu-satunya penghasilannya selama seharian penuh berjualan. Dan aku? perutku sangatlah kenyang usai makan di kedai facoritku sedangkan di dompet masih terdapat berlembar-lembar pecahan lima puluh ribuan namun aku merasa sayang untuk sekedar diberikan pada pengemis ringkih itu. Astaghfirullah...

Barangkali, Itulah Kita...
Cerita yang sedikit miris tersebut mungkin pernah kita dengar, atau bisa jadi itulah wujud diri kita yang sesungguhnya. Selalu merasa cukup dengan apa yang kita punya, merasa cukup dengan harta yang kita sedekahkan, merasa bangga dengan pangkat yang kita perbuat. Dan yang terakhir inilah yang paling berbahayanya 'rasa cukup' yang kita rasa.

Kenapa demikian? karena sesungguhnya merasa cukup dengan amal ibadah sesungguhnya datangnya langsung dari setan yang berbuat ghuruur atau ightiroor (berbuat penipuan untuk menjerumuskan manusia). Mungkin firman cinta dariNya-lah yang bisa menjadi pengingat bagi kita semua 

"Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." QS. Al 'Alaq 6-7

Merasa cukup dalam beramal dan beribadah itu mudah sekali merayapi hati, mudah menggerogoti dan menghanguskan pahala yang seakan-akan berada dekat dipelupuk mata, yang mana puncak dari penyakit ini adalah tumbuhnya perasaan 'merasa lebih baik dari orang lain'. Padahal sesungguhnya kita tak pernah tau, akan diterima atau tidaknya amalan kita selama ini olehNya.

Kita selalu menganggap berdirinya kita kala petang untuk bermunajat padaNya (tahajud, red) ataukah berdirinya kita diwaktu fajar atau dhuha untuk mendirikan shalat, atau barangkali segudang amalan yang menjadi rutinitas kita sehari-hari telah kita anggap cukup untuk mengantarkan kita ke jannahNya, maka sekali lagi berhati-hatilah karena sesungguhnya setan teramat pandai untuk membisikkan dan menjerumuskan manusia, 

"Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari jin dan manusia." QS. An Naas 5-6

Jauh hari Rasulullah telah mengajarkan do'a menjelang salam saat mendirikan shalat ini kepada umatnya dan senantiasa diulang-ulang mengingat pentingnya do'a tersebut agar mudah tertipu akan rayuan dunia yang bersifat fana, 

"Allahumma inni 'auudzubika min 'adzaabi jahannama, wa 'auudzubikamin fitnatil masiihid dajjal wa 'auudzubikamin fitnatil mahyaa wal mamaat"
~Ya Allah, sungguh kami berlindung kepadaMu dari siksa jahannam, aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, aku berlindung kepadaMu dari fitnah ad dajjal dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan kematian~

Menanam Rumput atau Padi?
Suatu ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz meminta nasihat kepada Hasan Al Bashri, seorang ulama yang terpandang di zamannya, kemudian beliau memenuhi permintaan tersebut, 


"Sesungguhnya kekekalan di depan kefanaan. Apa artinya semua ini? Oleh karenanya ambillah dari kefanaanmu yang tidak kekal untuk kekekalanmu yang tidak fana. Wassalam." 

Dunia itu ibarat lumpur, ia akan tumbuh meranggas jika kita tak siaga menyiangi dan mencabutnya, ia mampu hidup berada di celah-celah tumbuhan dan menjadi gulma pengganggu yang menghambat tanaman. Namun tabiat manusia justru cenderung membiarkan si rumput tumbuh menjalar di pelataran, bahkan memupuk subur dan mengabaikannya hingga ia besar menjadi semak belukar. Sebagaimana yang termaktub dalam surat cintaNya, 

"Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan dunia, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." QS. Al A'laa 16-17

Sedangkan akhirat itu laksana padi, ia hanya akan tumbuh jika ditanam, ia tak bisa tumbuh meranggas dan menjamur dengan sendirinya seperti rumput, jika tidak maka janganlah mengetam dengan baik di musim panen.

Itulah dualisme yang sinergis yang harus kita pilih, menanam padi ataukah menanam rumput, menumpuk harta duniawi yang bersifat fana atau memupuk amalan akhirat yang kekal selamanya. Yang jika kita menanam rumput maka padi tak mungkin tumbuh, namun jika kita menanam padi niscaya rumput pun akan ikut tumbuh. Begitulah, jika beramal untuk mengharap harta dunia jangan harap mendapat akhirat, namun jika beramal untuk akhirat maka dunia akan mengiringi langkah kita, bersiaplah

| sumber: shuhuf al-Haromain edisi Desember 2012/30

0 komentar:

Posting Komentar